Laman

Senin, 23 Desember 2013

Surat Untuk Ayam

Dear Ayam, 
surat ini kutujukan khusus untukmu tanpa ada CC kemanapun, percayalah.
Bacalah dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ayam.

          Haruskah ku terlelap di saat ayam-ayam itu baru bangun? Sungguh mati aku bosan mendengarkan ocehan mereka sebagai lagu pengantar tidur ku. Tak bisakah mereka bangun dalam diam? Sungguh celoteh mereka (seolah) tak kalah seru dari gosip ter panas pembantu-pembantu sebelah.  Apa yang sebenarnya mereka pergunjingkan di pagi buta ini? Tidak tahukah mereka kalau belum ada satupun acara gosip televisi yang tayang se pagi ini?

      Suara ayam bersenandung mesra dengan suara burung. Sekarang ayam-ayam malah membangunkan burung-burung. Dalam sekejap suara mereka berirama dengan deru kendaraan. Tak hanya burung-burung, rupanya kendaraan pun ikut dibangunkan oleh ayam. Ayam, tidak tahukah kamu kendaraan itu hanya mengotori bersihnya udara pagi nan sejuk ini dengan kentut polusinya. Jadi untuk apa sebenarnya ayam, kau ikut membangunkan kendaraan? Cobalah kau diam ayam, pastilah kendaraan tak ikut terbangun dan mengotori pagi yang indah ini dengan kentutnya.

         Kenapa pula ayam celotehmu harus bersuara nyaring, mengalahkan detik suara jam ku. Tak bisakah kau bergunjing dengan bisik-bisik tanpa teriak, layaknya gosip bisa beredar hanya dengan bisik-bisik. Sebab ocehanmu yang  nyaring itu membangunkan kendaraan, dan kendaraan suka kentut di sembarang tempat. Ayam, sebenarnya tidak baik itu bangun tidur terus bergosip. Tidakkah kamu membaca postingan blog ku sebelumnya tentang "bangun tidur ku terus....."? Aku tahu walaupun kamu tidak pernah mandi setelah bangun, berdoalah setelah kamu bangun tidur ayam, bukannya bergosip. Atau jangan-jangan ocehanmu bukanlah gosip sebangun tidur, melainkan doa pagi harimu. Ah, tidak perlu jugalah kau berdoa dengan teriakan nyaring. Tidak perlulah doamu itu kau pamerkan padaku, sampai membangunkan kendaraan. Cukup kau dan tuhanmu sajalah yang tahu ayam. Bukankah lebih khusyuk dan syahdu, bila kau berdoa dengan tenang dan pelan tanpa harus berteriak nyaring ayam?

       Ah, sudahlah. Aku tak ingin mengganggu rumah tanggamu, apalagi mencampuri urusanmu dengan tuhanmu. Sungguh maafkan aku ayam, aku tak bermaksud mengekang kebebasan bersuaramu. Aku takut melanggar hak asasi ayam, sebab aku tak ingin dijatuhi pelarangan makan ayam seumur hidup. Tidak, sejujurnya aku masih sangat menyukai mu ayam. Aku masih suka makan ayam buatan kfc, bila awal bulan. Aku juga masih suka makan ayam buatan olive, bila akhir bulan. Terlebih lagi aku belum pernah mencicipi ayam buatan kampus. Mungkin karena di jurusan ku tidak ada ayam yang dipelihara oleh kampus. Lantas adakah kampus yang memelihara ayam? Adakah ayam yang diternakkan di kampus? Bila tidak haruskah aku pindah ke jurusan peternakan untuk dapat menjadi peternak ayam, di kampus. Lalu mencicipi ayam peliharaan ku sendiri.

         Jawab aku ayam. Jawab semua kebimbangan ku. Bila kau telah membaca tulisan ini, maka kau telah membaca surat yang aku tujukan khusus untukmu ayam. Jawablah sebagai bentuk saling menghormati kita, sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Namun bagaimana aku tahu kamu telah membaca tulisan ini ayam? Mungkin suatu hari nanti disaat kamu bangun dan tak lagi berteriak nyaring, aku tahu kamu telah membaca tulisanku ayam.

Best Regards
sesama makhluk ciptaan Tuhan

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar